Header Ads

KCB: Gadis di Koridor Sekolah



Judul : Gadis di Koridor Sekolah
Nama pemain : Rena, Bagas, Roni (kakak Rena), jika ada pemain lain, silahkan ditambahkan.
Genre: Horor
Pada: 19 dan 26 Juni 2013

===

Rena mengusap-usap dahinya dengan gusar. Kedua matanya tak lepas mengamati rintik hujan yang semakin menderas.
Sesekali ia melirik jam tangan doraemon di pergelangan tangan kirinya yang sudah menunjukkan pukul lim sore. Namun, kakak lelakinya yang berjanji menjemput Rena seusai ekskul paskibra itu tak kunjung datang.
Kini pandangan Rena beralih pada koridor yang sudah sepi.
Perasaan tak enak mulai menjalar dalam dirinya. Teringat akan beberapa kisah misteri yang sempat ia dengar sejak awal masuk ke sekolah ini.
Rena menoleh ke samping kiri. Mencari-cari kalau saja masih ada siswa lain yang belum pulang.
Sejurus kemudian, ada kelegaan dalam dirinya. Tatkala kornea matanya menangkap sosok gadis berseragam putih abu-abu yang berdiri sendirian di ujung koridor. Rambut hitamnya tampak melambai tertiup hembusan angin. Tampaknya gadis itu juga sedang menunggu jemputan. Tapi jika dilihat dari seragamnya, gadis itu bukan anak kelas 10 seperti dirinya. Atasan putih yang gadis itu kenakan terlihat agak kusam.
Tanpa pikir panjang, Rena segera bergegas mengemasi buku dan tas ranselnya. Setidaknya ia tak sendirian sekarang. Lebih baik menunggu jemputan bersama dengan gadis itu, pikir Rena. Namun saat ia kembali menoleh ke tempat gadis tadi berdiri, Rena tertegun. Ujung koridor itu tampak kosong. Tak ada sosok gadis yang sempat dilihatnya tadi di sana.
"Astaga, ke mana perginya gadis yang tadi ada di sini." Rena terkejut.
Tetapi Rena tetap positive tinggking. "Mungkin gadis itu sudah pulang kali yah," ucap Rena.
Kakak Rena tiba dengan motor gedenya. Kakaknya menunggu Rena di gerbang sekolah. Rena berjalan ke arah kakaknya. Mengabaikan gadis yang tiba-tiba menghilang itu.
"Lama banget sih, Kak," kata Rena kesal.
"Sorry, tadi ketiduran, tidak ada yang bangunin." Kak Roni menggaruk-garuk kepalanya.
Rena langsung mendaratkan pantatnya di atas motor, belakang Kak Roni. Kak Roni menstrater motornya dan menarik gasnya perlahan. Sejurus itu, perlahan motor tersebut membawa keduanya meninggalkan sekolah gerbang sekolah.
Tak sengaja, saat Rena menoleh ke belakang, matanya menangkap sosok gadis yang tadi di pintu gerbang sekolah. Gadis itu tertunduk lesu.
"Kakak, gadis itu muncul lagi. Dia beneran manusia atau bukan? Dari tadi ngikutin Rena terus, aku takut." Rena memegang erat jaket baseball berwarna merah, Kak Roni.
"Ah, itu mungkin perasaan kamu saja kali. Siapa pun itu, ngapain ngikutin kamu?" ujar Kak Roni menenangkan Rena.
Gadis itu mengangkat kepalanya. Terus memandang ke arah Rena. Rena takut, tapi ia juga penasaran. Ia memandang gadis itu, memastikan benar manusia atau bukan. Astaga, ada bercak merah di bawah matanya.
Rena kaget bukan main. "Darah, itu benar darah. Kak! Rena takut, Kak," pekik Rena ketakutan. Jantungnya berdegup tak menentu. Bulu kuduknya berdiri semua. Hawa dingin yang aneh menyusup di pori-pori kulitnya.
Tiba-tiba motor Kak Roni mogok. "Sial!" Roni menggerutu. Kemudian meninju tangki depan motor itu.
"Lhoh Kak, kok mogok sih. Gimana ini?"
Rena menoleh ke belakang. Kosong, gadis itu menghilang.
“Syukurlah, tapi ....”
Kak Roni turun dari motor, mencari tahu penyebab motornya mogok. Rena pun ikut turun. Meskipun gadis itu menghilang, tapi ia masih ketakutan. Suasana begitu mencekam. Sepi tidak ada satu pun orang lewat. Apalagi motor ini mogok tepat di bawah pohon besar.
Rena menoleh ke kanan dan ke kiri. Melihat keadaan sekitar. Ia menarik-narik jaket Kak Roni.
"Rena, jangan ganggu Kakak dulu. Kakak lagi konsentrasi benerin nih motor." Ucap Roni.
“Tapi Kak, Rena takut. Takut jika gadis itu muncul lagi. Masak dia muncul-hilang, muncul-hilang gitu. Dia tidak lagi bermain petak umpet. Lagian dia tidak ada temanya. Dan perlu Kakak tahu, tapi ada bercak darah di bawah kelopak matanya. Apalagi kalau bukan hantu.” Rena menceritakan apa yang dilihat tadi. Ia sendiri bergindik ngeri.
Tapi Kak Roni tak mau hanyut pada cerita murahan yang tak masuk akal itu. "Tak ada siapa-siapa Ren. Mungkin kamu kecapekan. Sebaiknya kamu segera istirahat setelah nanti sampai rumah." Roni mengacuhkan cerita Rena.
Roni mencoba menstarter motornya lagi, setelah mengecek, ternyata tidak ada yang rusak. Dan beruntunglah, mesin motor itu hidup. Kak Roni naik ke motornya, diikuti Rena. Tubuh Rena masih bergetar, ia tak bisa tenang. Bulu kuduknya masih berdiri, badanya panas dingin. Ia jelas-jelas melihat sosok gadis murung itu.
Rena kembali menoleh ke belakang dan gadis itu muncul kembali dengan senyuman yang begitu mengerikan. Rena sontak menutup matanya, membalikkan pandangan, dan memeluk kakaknya dengan erat.
“Ada apa lagi?” tanya Kak Roni kaget akan pelukan Rena.
“Gadis itu muncul lagi, ia memsang senyum aneh, mengerikan.” Tubuh Rena menggigil.
“Itu halusinasimu saja, jelas-jelas Kakak tidak melihatnya.”
Rena tak bisa menepis rasa takutnya, mulutnya terlihat tak bisa berhenti komat-kamit merapalkan doa. Doa apa pun itu yang melintas di kelapanya.
Tiba-tiba gadis itu seperti melayang di samping Rena. Gadis itu memandang Rena, tersenyum aneh padanya. Dan Rena melihatnya.
"Kakak...! Cepat, gadis itu." Histeris Rena.
"Rena! kamu kenapa sih?" Roni mulai terdengar kesal atas tingkah Rena sejak tadi. Ia masih tidak percaya dengan apa yang diceritakan Rena. Mana mungkin hantu munncul petang-petang gini. Biasanya lewat tengah malam.
Rena memeluk Kak Roni erat. Menarik-narik jaket Kak Roni, sampai membuat Kak Roni hilang kendali, motor pun oleng. Kak Roni  menoleh sedikit ke belakang. Namun Kak Roni tak melihat apapun kecuali adiknya yang ketakutan.
"Rena.., kamu jangan bikin kakak bingung dong! Sebenarnya ada apa sih?" kali ini Roni menghentikan motornya.
Tiba-tiba Kak Roni merasakan angin berhembus membuat seluruh bulu kuduknya berdiri.
"Sepertinya kita harus cepat pergi dari sini. Aku merasa tidak enak." Roni merasakan seluruh indranya menangkap sesuatu yang tak biasa.
“Tuh kan, Kak? Cepetan gas motornya.”
Kak Roni merasakan ada sosok yang sedang mengikutinya. Sedangkan Rena masih memeluk Kakaknya erat dengan penuh ketakutan.
"Kak, Rena takut..." ucap Rena sembari mencengkeram kemeja kakaknya.
Tiba-tiba saja gadis itu sudah berada di depan mereka. Kak Roni kaget bukan main. Ia langsung membelokkan motornya dan menarik gas lebih cepat.
"Pegang yang kencang, Rena!" perintah Roni.
Wuzzzz...Roni menggigil merasakan angin dingin menerpanya ketika melewati gadis tersebut. Ia pun tak berani menoleh ke arahnya.
"Hihihi... hihihi..." Gadis itu menyeringai lalu tertawa.
Renadan Kak Roni tan berani menatap. Rena menutup matanya, sedangkan Kak Roni fokus memandang ke depan. Mencoba mengabaikan suara itu. Tubuh mereka gemetaran.
Rena tertegun. Tiba-tiba bulu kuduknya berdiri. Suasana mencekam seolah mendukung ketakutan yang kini dirasakan Rena. Pikiranya mulai melayang ke sebuah cerita tentang peristiwa kematian seorang siswi sekolah yang meninggal gantung diri di kamar mandi sekolah beberapa tahun silam.
"Apa mungkin dia...?" pikir Rena penasaran, masih dengan suasana yang mengerikan.
Mendung yang menggantung sejak tadi sore memuntahkan air juga. Jarak pandang ke depan pun berkurang.
"Sudah cukup, aku tidak tahan dengan ini semua," pekik Rena.
Tiba-tiba petir menyambar, mengantarkan kilat yang menerangi jalan itu seketika.
***
Keesokan paginya, Rena sakit. Badanya panas tinggi. Ia masih ketakutan. Tubuhnya mengigil. Selimut tebal yang membungkus tubuhnya masih tak mampu. Ia tak masuk ke sekolah. Kejadian petang kemarin sukses membuatnya tepar.
"Ini bukan hanya khayalanku, Gas. Silahkan kamu tanya Kak Roni kalau nggak percaya dengan ceritaku ..." ucap Rena lirih, meyakinkan Bagas yang datang menjenguknya pagi itu.
"Ah, yang benar Ren? masa masih ada hantu,  di jaman modern kayak gini?" kata Bagas tak percaya.
Bagas sepertinya masih tidak percaya. "Oke nanti aku tanya  Kak Roni. Tapi kalau memang benar dia hantu anak sekolah seperti ceritamu, aku akan coba cari tahu."
"Lebih baik jangan, aku takut kamu kenapa-kenapa. Cerita hantu yang beredar di sekolah itu benar Gas. Percayalah,” Rena menarik nafas sebentar, "aku ... aku benar melihatnya di koridor sekolah, terus di gerbang dan terus mengikutiku, Gas. Dan dia memakai seragam sekolah kita, aku tak mungkin salah lihat. Dan aku seperti pernah melihat wajah itu ...." lanjut Rena dengan  raut wajah ketakutan.
"Siapa Ren?" tanya Bagas.
Tiba-tiba wajah Rena terlihat memucat. "Dia... seperti gadis dalam foto yang aku temukan di sebuah buku novel yang aku pinjam di perpustakaan beberapa hari yang lalu. Foto itu tertulis tahun 2008. Tepat saat Kakakku Roni masih menjadi siswa di sekolah yang sama." jawab Rena menjelaskan.
"Kau ingat tidak cerita tentang gadis yang di temukan tewas di gudang belakang saat kita duduk di kelas sebelas?"
"Iya, aku ingat. Bukankah kasus itu sudah lama ditutup. Bahkan gudang belakang pun saat ini selalu terkunci rapat " jawab Bagas mengernyitkan dahinya.
"Kau sudah beritahu Kak Roni tentang cerita ini?" tanya Bagas
"Sudah, tapi dia menutup mulut, tak ada komentar sedikit pun. Wajahnya berubah pucat. Aku tak berani menanyakannya lagi.” Tatapan Rena menerawang jauh ke luar jendela.
"Aku akan coba mencari tahu kebenarannya, kalau sudah ada titik terang, baru pelan-pelan kita tanyakan pada Kak Roni, gimana?" Bagas memberikan usul.
"Iya, aku setuju dengan usulanmu," ucap Rena.
Setelah berbincang-bicang cukup lama jarum jam telah menunjukkan pukul 10.00.
"Hmm... Rena aku pulang dulu ya. Semoga cepat sembuh, aku sayang kamu.”
"Terima kasih, ya, Gas.”
Rena Berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Rena berharap, Bagas bisa menyelesaikan misteri ini secepatnya, Rena tak kan berani untuk ke sekolah lagi, jika hal ini belum terselesaikan.
Obat yang diminum Rena membuatnya mengantuk. Setengah jam kemudian Rena tertidur. 
***
Gadis itu berlari, masuk ke dalam kelas yang telah kosong. Memilih suatu tempat yang dirasanya aman untuk menyembunyikan tubuhnya yang kurus di balik kursi dan meja yang berjajar rapi. Jantungnya berdegup kencang, memacu keringatnya bercucuran.
Rena berjingkat mendekatinya. Dengan sangat hati-hati, ia berdiri dan mengulurkan tangannya. Mata gadis itu menatap kosong. Dan, sedetik sebelum tangan mereka bersentuhan, gadis itu menghilang, hanya meninggalkan suara serak dan nyaris tak terdengar, "Tolong aku, temui aku di gudang ..."
 "Rena... Bangun, Rena." Teriak Roni yang berdiri di tempat tidur Rena.
 Rena terperanjat, sesuatu membangunkan alam bawah sadarnya. Ia perhatikan sekelilingnya. Ia pastikan masih berada dalam kamanya. Kemudian memadangi Roni dengan tatapan kosong, nafasnya terengah-engah, wajanya memucat.
"Kenapa kamu, Rena?"
"G-g-gis itu, Kak." Rena memeluk erat Roni. "Gadis itu hadir di mimpiku. Dia memintaku untuk ke gudang sekolah, Kak," ucapnya lirih.
Jendela yang tersibak oleh angin yang masuk melaluinya, memberi suatu pandangan alam yang sudah ranum. Rena menengok jam weker doraemon di samping tempat tidur. Sudah menunjukan jam 5 sore.
Rena masih menimang ajakan gadis yang hadir dalam mimpinya. Pikirannya dipenuhi segala macam tanya, namun ketakutan seperti menekannya kuat-kuat untuk membuang jauh semua itu.
 "Apa maksudnya, aku harus menolong dia?" pikir Rena, "Apa mungkin aku harus datang ke gudang kosong itu seperti keinginannya?"
 "Sudahlah, dek. Jangan terlalu difikirkan," ucap Roni mencoba menangkan Rena. "Mimpi itu karena kamu yang terlalu memikirkannya, lebih baik fikirkan saja kesehatanmu."
"I-iya, kak." Sahut Rena dengan wajah yang masih memucat.
Roni pun keluar meninggalkan Rena yang masih terlihat kebingungan.
 Rena mengingat-ingat runut kejadian yang dialaminya kemarin, semua yang hadir dalam mimpi itu seakan memberi pertanda bahwa ada yang disembunyikan oleh kak Roni. Ia bergegas mengambil handphone-nya. Dengan cepat ia mengetik sms untuk Bagas.
“Bagas, Cepat ke Rumahku usai maghrib nanti, ada hal penting akan kuceritakan padamu.”
 Rena masih duduk terpekur di sisi ranjang tidurnya. Pikirannya jadi kacau. Kalau gadis itu ingin aku menolongnya, kenapa dia datang menakutiku? bisik hatinya agak kesal.
 Sesekali matanya melirik handphone di sampingnya. Masih belum ada balasan dari Bagas.
“Semoga dia datang maghrib nanti.”
Hatinya diantara harap dan cemas. Besar harapannya Bagas akan datang dan membantu memecahkan masalah ini. Dan kecemasan tentang sesuatu yang disembunyikan kakaknya, semakin besar ketika selintas bayangan wajah Roni mampir di benaknya.
 Rena beranjak dari tempat tidur. Menatap keluar jendela.
“Takkan selesai, jika aku hanya memikirkan tanpa melakukan suatu hal, mungkin aku harus menuruti ajakan gadis itu.”
 Tanpa pamit, Rena mengendap-endap meninggalkan kamarnya. Tujuannya hanya satu, gudang kosong di belakang lab sekolah.
Tak sengaja Roni melihat gelagat aneh pada adiknya, lewat secara diam-diam di belakang Roni yang sedang menonton TV.
"Rena mau ke mana kamu?!"
Klik!
Langkah Rena pun terhenti seketika. 
“Anu, keluar bentar. Sama Bagas, kok,” jawabnya asal.
“Tapi kamu kan masih sakit.”
“Aku sudah sembuh, Kak. Lihat nih.” Rena menggerakkan kedua tangannya ke atas-bawah. “Lagian perginya  kan sama Bagas.”
Oh yaudah, pulangnya jangan kemalaman.”
***
Mendung masih menggantung di langit sebelah barat. Angin dingin berhembus pelan, menyapu wajahnya Rena.
"Si Bagas kemana lagi? Lama Banget anak ini,” gerutunya dalam hati.
"Ini sudah selepas maghrib, tidak ada waktu lagi, aku harus bertindak sesuatu.”
Ia berjalan mencari kendaraan yang dapat mengantarkannya. Ia malah berpapasan dengan Bagas. Ia pun menceritakan dengan runut setiap kejadian yang aku alami dalam mimpi sore tadi.
 “Yakin, kamu bakal ke sana, Ren?” Bagas meyakinkan. Wajahnya mengisyaratkan keraguan.
“Tak ada jalan lain, aku rasa ia ingin menyampaikan sesuatu padaku.” Direkatkanya sweeter yang membungkus tubuh Rena, kedua lengan ia rekatkan di pinggang Bagas.
***
Gerbang sekolah terasa seperti pintu kegelapan. Beberapa lampu yang menerangi beberapa bagian kelas tampak remang membawa suatu suasana yang mencekam. Bagas memarkirkan motornya tepat di depan gudang sekolah sesuai permintaan Rena.
Perlahan, Rena dan Bagas berjalan dengan berjinjijit agar suara sandalnya tidak terdengar. Rena menoleh ke kanan dan kiri seperti seorang pencuri yang takut ketangkap basah. Kemudian, ia kembali melanjutkan langkahnya setelah keadaan dirasakannya aman. Namun, tiba tiba, ia merasakan bagian tengkuk belakang lehernya meremang. Ia merasakan ada seseorang yang lewat.
 Di keheningan malam, Rena merasakan dinginnya angin semakin terasa menusuk-nusuk. Sadar kondisinya memang sedang kurang sehat, dia merapatkan sweeter yang dipakainya. Ia memgang tangan Bagas.
Rena kekeh dengan tujuannya. Tak dihiraukannya bayangan yang lewat tadi, karena rasa penasarannya lebih besar, sehingga rasa takutnya pun terkalahkan.
Kini mereka sudah berada di depan pintu gudang. Pintu kayu berwarna cokelat yang telah memudar.
"Kamu yakin, Ren, bakal masuk ke gudang itu?" Tanya Bagas.
 "Iya, aku yakin." tegas Rena
BRAKKKK!!!
Terdengar bunyi dalam gudang. Rena dan Bagas ketakutan. Tapi mereka tetap harus melanjutkan misinya.
Perlahan mereka membuka pintu gudang yang memang tidak pernah dikunci. Hati-hati Bagas mendorong pintu gudang menggunakan ujung senter. Pintu tua itu berderit perlahan, seperti jeritan sukma yang memilukan.
Keadaan di dalam begitu gelap. Sehingga mengharuskan Bagas menyalakan senter yang sudah dia bawa dari tadi.
Sial. Senter yang dibawanya ternyata memberi cahaya yang redup. Hhhh... Jangan-jangan baterainya sudah mau habis, Bagas membatin.
 "Gawaat Ren baterai senterku habis," kata Bagas. “Kamu bawa senter?”
Rena menggelang.
Senter menyala redup persis mengenai dinding di depan mereka. Berbarengan dengan itu, keduanya terpaku dengan apa yang dilihatnya.
"Kak Roni?!" teriak Bagas
 "Kak Roni, kenapa ada di sini? Bukannya tadi Kakak masih di rumah?" Rena panik, mendapati Roni yang terbujur kaku terduduk bersandar di dinding.
Roni hanya diam, kepalanya tertunduk. Rena dan Bagas berjalan menghampirinya.
Bagas menarik tubuh Roni pelan. Tapi Roni tetap tak bergeming. "Bantu aku menggeser tubuhnya, Ren. Cepat. Roni tak sadarkan diri."
Tubuh Roni bergetar, Rena meraih tangan Roni yang dingin bermandi keringat.
Tiba-tiba gadis itu muncul dari belakang tubuh Roni. Bagas dan Rena terperanjat. Mereka langsung segera menggeser tubuh Roni.
 Ketika tubuh Roni bergeser ke samping, tubuh cewek dengan wajah yang hampir membusuk itu makin jelas terlihat. Bagas dan Rena terperanjat lagi. Mereka mundur kira-kira dua meter.
 "Celaka!" teriak Bagas, "Apa yang harus kita lakukan, Ren?"
 Sesuatu seperti membungkam mulut Rena, hanya tubuhnya seperti dialiri sengatan listrik.
Mata gadis itu tiba-tiba terbuka. Rena dan Bagas gemetaran. Mereka berdua ingin lari, tapi kakinya terpaku di sana. Gadis itu mengulurkan tangannya pada Rena. Bagas hanya memandang tanpa bisa menggerakkan tubuhnya.
 Tubuh Rena terangkat sejajar dengan tubuh gadis itu.  Seperti logam yang ditarik magnet, perlahan tubuh Rena seolah melayang menghampiri gadis itu. Tatapan matanya kosong. Rena seperti terbius, tak sadarkan diri.
"Ren, kemarilah! Jangan ke sana!" Wajah Bagas pucat. ia khawatir pada Rena.
Setelah jarak antara Rena dan gadis itu dekat, Rena mengulurkan tangannya, mengambil sesuatu yang diberikan gadis itu. Sinar putih terpancar begitu saja di antara genggaman tangan Rena dan gadis itu.
 Bingung, antara menjaga Roni dan meraih Rena. Bagas diam seperti patung, hanya deru nafasnya yang memburu.
Bagas semakin khawatir, tak perlu pikir panjang, ia melepaskan tubuh Roni, lalu berlari mengejar Rena. Namun gadis itu melirik ke arah Bagas, sehingga membuat Bagas terpental.
Bagas terduduk tak berdaya. Ia hanya bisa menyaksikan keanehan di depan matanya. Mulutnya ternganga. Tenggorokannya tercekat. Tubuhnya bagai terpaku di lantai papan gudang itu.
Setelah sesuatu yang bercahaya itu berpindah tangan, tubuh Rena lemas dan ambruk. Gadis itu tiba-tiba menghilang bersama hembusan angin berbau mawar.
Bagas langsung berlari ke arah Rena. “Ren, kamu kenapa!” teriak Bagas
Perlahan Rena membuka mata, “Gas, aku tidak apa-apa.”
“Apa ini?” Rena menatap kertas yang berada dalam genggamannya.
Rena kemudian membuka kertas tersebut dan membaca tulisan di dalamnya.

Dear sayangku, Roni.
Maafkan aku telah mengecewakanmu. Aku tau, kamu begitu mencintaiku. Namun, kehadiran Bagas membuatku berpaling dari mu.
Dear sayangku, Roni.
Maafkan aku telah mengecewakanmu. Aku tidak menyangka, aku bisa berselingkuh di belakangmu. Sampai akhirnya hubungan ku dengan Bagas membuatku berbadan dua.
Dear sayangku, Roni.
Maafkan aku telah mengecewakanmu. Bagas begitu bersikeras untuk bertanggung jawab. Tapi, aku tidak mau. Aku tidak mau melihatmu sedih, aku tidak mau melihat mu kecewa karena ku.
Dear sayangku, Roni.
Maafkan aku telah mengecewakanmu. Biarlah, biarlah ku akhiri ini dengan caraku. Mungkin dengan begini, aku bisa menebus segala kesalahanku terhadapmu.

Yang selalu kamu cinta,
Umirah Ramata

Perlahan airmata Rena menetes membasahi kertas yang ia pegang.
Bagas hanya bisa terduduk, dengan lutut yang bersentuhan dengan lantai.
“Ternyata kau, Gas.”
***
Koor Reyhan

No comments

KOBIMO@2012. Powered by Blogger.