Header Ads

Jalaluddin Rumi

Jalaluddin Rumi (1207-1273); penyair sufi legendaris. Ia dilahirkan di bagian timur wilayah Kekaisaran Persia kuno, dekat Balkh (kini Afghanistan). Karena ancaman invasi pasukan Mongol, keluarganya lalu hijrah ke Konya, Turki. Sebagai seorang teolog jenius dan ulama yang cemerlang, ia meneruskan kiprah ayahnya sebagai seorang pemuka agama hingga ia bertemu dengan sahabat dan guru spiritualnya, Syamsi Tabriz.

Pada 1244, Rumi mengalami percerahan spiritual setelah bertemu Tabriz. Ia serasa dilahirkan kembali dan mulai mengerjakan sajak panjangnya, Matsnawi, yang terdiri dari 24.000 bait, pada usia 38 tahun. Karya terkenalnya yang lain adalah Diwan Syamsi Tabriz. Puisi-puisi Rumi mengandung simbol-simbol mistis dan spiritual dalam bahasa universal. Ia menjelajahi pencarian makna hidup dan kebutuhan pamungkas jiwa manusia untuk menyatu dengan Tuhan.

Rumi kerap menggunakan kata ganti “kau” dalam puisinya, tetapi ia kerap menyamarkan identitas “kau” itu. “Kau” dalam puisinya bisa mengacu pada Tuhan, kekasih, atau bagian dari dirinya, atau bahkan gabungan ketiganya. Oleh para pengikutnya, ia dipanggil “Maulana” yang berarti “Guru kami”. Dalam ritual sufinya, selain menggunakan puisi, ia juga menggunakan musik.

Dalam bahasa Persia, puisi kerap dinyanyikan. Bagi Rumi, musik bisa digunakan sebagai bentuk zikir untuk mengingat bahwa tiada Tuhan selain Allah –dalam bahasa Arab “La ilaha illa Allah”. Rumi juga merupakan pendiri tarekat sufi Maulawiyah yang dikenal dengan tarian sufi berputarnya (The Whirling Dervish). Tarekat ini berpusat di Konya dan memiliki sekelompok pemusik dan penari yang kerap melakukan perjalanan keliling dunia. Puisi-puisi Rumi telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa dan dikenal luas di berbagai penjuru bumi, termasuk di Indonesia. [Sumber: Ensiklopedia Sastra Dunia]

Semoga bermanfaat
Sekian dan terima sayang,


Osya *_*

No comments

KOBIMO@2012. Powered by Blogger.